ada satu puisi untuk mamah

  • avatar Tidak diketahui

    Mamah (sebuah tangis, peluk dan penyesalan)

    Apa jadinya jika kabar itu
    Tak kudengar
    Setiap malam wanita paruh baya
    Sambil membukakan pagar
    Mulutnya terus mengoceh
    Kira-kira saat pukul tiga
    Subuh,
    Waktu dimana ia terpaksa terbangun
    Waktu seolah tak pernah mengerti
    Ribuan kalimat yang keluar dari mulut mamah
    Memperingatiku
    Setiap subuh,
    Saat ia membukakan pintu rumah
    Seorang lelaki aku ini
    Sedangkan dia seorang wanita
    Ia senang sekali bercerita
    Setidaknya telingaku kusediakan
    Untuk mendengar keluhannya
    Ia wanita tangguh di balik sumpah serapah
    Yang sering dilontarkannya padaku
    Tiap malam setelah pulang dari keterasingan
    Aku melihatnya berdoa
    Doa yang selalu ia panjatkan pada
    Sang Maha Kasih
    Setiap hari…
    Jauh sebelumnya aku pernah bermimpi
    Mimpi yang meneteskan air mata
    Serta jeritan tangis
    Suara hati
    Bukan sekadar bermimpi
    Saat terbangun di pagi hari aku menangis
    Menangis karena mimpi yang kubawa sampai
    Tak sadar aku menangis di peraduan
    Sabtu buta di bulan september
    Akhirnya ia bercerita juga
    Suasana hening malam menandai percakapan
    Kami berdua
    Suaranya yang keras dan ketus
    Tak kurasakan malam itu
    Ia akhirnya menuturkan
    Penderitaan akan sebuah penyakit
    Namun
    Siapa yang menyangkal
    Mamah kali ini sungguh ketakutan
    Ketakutan itu mulanya kutanggapi biasa saja
    Wanita yang baru saja menceritakan
    Penyakitnya
    Adalah mamah
    Seorang wanita yang berparas cantik
    Meski takaran badan yang kurang proposional
    Mamah mencoba menahan rintihan tangis
    Sebagai wanita tangguh yang kuketahui jejaknya
    Ia mencoba bersembunyi
    Bersembunyi di balik rahasia yang
    Sengaja ia simpan
    Hingga akhirnya ia mau bercerita
    Atas diagnosa
    Pikirku melayang
    Kata-kata terlontar:
    Orang medis pasti bilang ini
    Bilang itu
    Jangan makan ini!
    Jangan makan itu!
    Ia sudah tenang
    Kembali ia melanjutkan tidurnya
    Sementara aku
    Masih terperangah
    Tak sepatah kata terucap dalam hati
    Pikiran melayang teringat akan kalimat
    Seorang teman; yang kehilangan sosok ibu
    Lamunan akhirnya mengantarkanku
    Pada mimpi buruk
    Sebisa mungkin kutepis firasat yang
    Berlalu-lalang di dalam pikiran
    Akhirnya masa lalu
    Semakin menggerogoti hingga terasa di ujung kaki
    Kulihat ia masih tertidur
    Tanpa sadar kubawakan selimut dari kamar tidurku
    Ia sering beristirahat di kamar tengah
    Rumahku yang sempit
    Tempat yang tidak pantas bagi
    Seorang mamah
    Kuhantarkan selimut itu padanya
    Yang sedang tertidur pulas
    Isak tangis tak terhankan lagi
    Kutatap wajahnya yang sedang tertidur
    Cukup lama
    Hingga ia mendengar isakan tangisku
    Ia terbangun mendengar isakan tangisku
    Aku rubuh
    Rubuh di hadapannya
    Kupeluk erat tubuhnya yang gempal
    Tangisku akhirnya pecah
    Pelukan itu mengingatkan
    Suatu peristiwa
    Denting jam di ruangan itu menandakan
    Memori pelukan masa lalu
    Saat itu aku terjatuh
    Namun kini justru ia yang merasakannya
    Merasakan beban dalam hidupnya
    Sekali lagi
    Ia semakin tegar
    Tak kusangka ia mampu setegar itu
    Jangan menangis anakku
    Rasa bersalah akhirnya mendera
    Tiap hari
    Siang dan malam ia selalu berpikir
    Bekerja
    Dan menangis
    Hal biasa yang selalu kutanggapi
    Kata maaf tercucap dari mulutku
    Meski begitu ia
    Mengucapkan nasihat terbaik
    Lega rasanya
    Ia menyadarkan kesalahanku
    Ia sedang butuh motivasi
    Dari suaminya
    Kakak
    Adik
    Dan aku.
    Penulis menguraikan air mata di saat menuliskan puisi kecil ini. Sesak karena tangis yang tak tertahankan sangat terasa ketika ‘ditengah-tengah’ muncul bayangan di depan mata. Satu hal, terimakasih atas cinta mamah.
    Penulis,
    Huyogo Gabriel Yohanes Simbolon

  • avatar Tidak diketahui

    subhanallah.. jadi inget mama..

  • Topik ‘ada satu puisi untuk mamah’ tidak lagi menerima balasan baru.