Antara Aku, Kamu dan Getuk Lindri.
-
Nasi sudah menjadi bubur. Setelah berbulan-bulan lamanya gue menjalani kisah cinta manis dengan seorang gadis. Kamu, si cantik yang bernama Vero. Dia sangat cantik tetapi tidak bisa mengalahkan kecantikan vespa gue sebut saja ‘Manohara’ berharap nama yang pas untuk vespa gue yang bodinya aduhai.
Suatu hari di sebuah gang komplek di kota Bandung.Ketika menunggu teman gue yang belanja di sebuah mini market–sambil menunggu, gue menyalakan sebatang rokok, pasang muka ganteng, duduk di vespa warisan dari babeh gue ditambah kaca mata hitam yang melekat menambah nilai kekecean gue pada saat itu. Seperti di film The Blues Brother, kalau gue bilang.
Tapi, hasilnya gue malah disangka tukang pijit panggilan oleh warga sekitar. Gue tersipu malu lalu bergegas membuka kacamata. Dan saat membuka kacamata, tampaklah sesosok bidadari turun dari becak berjalan di depan gue. dengan bibir sexy Angelina jolie, rambut british, gigi berpagar seperti SPG-SPG HP maupun rokok.
Gue ngeliatin tuh cewek sampai leher berputar 180 derajat! Saking terpakunya sama bidadari tersebut . Gue manggil dan cewek itu hanya melewati gue sambil melempar tatapan dingin tanpa sepatah kata. Kalau menurut lirik lagu yang sering gue dengar, sih, oh bidadari turun dari surga! Di hadapanku, eeeaa!! Cheesy, sih, tapi boleh juga. Dan berhubung dia nggak turun dari langit, jadilah mungkin lirik tersebut berubah menjadi oh bidadari turun dari becak di hadapanku. Do’i masuk ke sebuah gang, dan gue memutuskan untuk mengikuti gadis tersebut.
Tapi sayang, dia menghilang entah kemana.
Apa mungkin dia ¬¬¬hantu di siang bolong? Jalan dengan dingin tanpa memberikan respon apa-apa–atau guenya aja yang lagi sial? Entahlah. Yang jelas, gue bakal menelusuri keheranan ini.
Dia orang, kan? Mana mungkin ada hantu di siang bolong! Mungkin nggak, sih? Bodo amatlah!Gue bergegas keluar dari gang itu. Karena gue takut menghilang seperti cewek tadi. Padahal, gue ingin tau siapa namanya! Syukur-syukur gue dapet nomer handphone-nya. Ya–biar gue bisa kenalan aja gitu. Terus, mendapat cinta suci abadi seputih melati yang harumnya mewangi sepanjang hari. Ah! Delusional, kan, gue? Yah, namanya juga jatuh cinta. Tapi, hal yang paling penting, gue harus membuktikan dulu kalau cewek itu adalah manusia dan bukan setan! Atau tokoh fiktif belaka seperti sinetron-sinetron yang ada di Indonesia.
Besoknya, gue kembali ke sana. Tepat di tempat dan jam yang sama untuk mengejar cinta gue yang mungkin dulu hilang digondol anjing budug tetangga. 1 jam gue nungguin, 2 jam berlalu, 3 jam gue beli tahu dulu, 4 jam kasihan delu. Sampe bodo gue nunggu!
Akhirnya, di hari ketigalah gue bertemu dia. Entah abis balik dari mana. Yang jelas, hari ini dia nampak lebih elite dari kemarin. Yang asalnya turun dari becak sekarang do’i turun dari taksi–dengan rambut terurai seperti model shampo urang-aring yang biasa seliweran di tv. Gue terpesona melihatnya.
Keringat mengucur deras dari atas sampai bawah. Saat cewek itu berjalan melewati gue, wangi parfumnya menguar dan menusuk-nusuk hidung! Aromanya melaju ke khalbu sampai meracuni otak. Baunya khas seperti mukzijat shubuh yang biasa dipake kakek-kakek buat pergi ke mesjid. Jangan-jangan… dia tukang parfum yang biasa jualan di pinggir alun-alun kota? Atau mungkin, ini pertanda kalau dia adalah bener-bener bidadari yang akan menemani gue di kala hati gundah gulana?
Kemudian gue bergegas memanggilnya. “Hey, kamu! Tunggu!”
Do’i menoleh dan gue langsung turun dari motor. Tapi sial, do’i malah berlari kalang kabut dengan mimik ketakutan saat melihat gue! Tapi, maaf ya. Gue gak nyerah sampe situ. Gue kejar tuh cewek sampai masuk gang! Tapi hasilnya? Dia hilang.
Tuh cewek lari dengan kecepatan di luar nalar, miriplah kayak atlit marathon di olimpiade!
Gue pun bertanya pada bulan dan bintang. Tapi karena tidak dapat jawaban, akhirnya gue bertanya pada rumput yang bergoyang. Tingkah gue mengundang tanya pak tukang tambal panci, beliau ngira gue gila!, akhirnya gue memutuskan untuk bertanya pada penduduk sekitar.
Ternyata, si do’i berlari ke rumahnya yang ada di pojok jalan kenangan! Beruntung, ada seorang ibu-ibu pake daster oren lalu-lalang di depan gue sambil jinjing ember jemuran.“Bu, tahu nama cewek itu gak?” tanya gue–rada deg-degan.
Si ibu noleh ke arah si cewek dan gue secara bergantian lalu menjawab, “Gadis itu namanya Vero”. Sambil tertawa melihat gue. heran melihat ibu-ibu itu tertawa, tapi gue abaikan saja, dengan tarian gembira ria gue mirip kodok yang udah gebet kawin.Rasa penasaran gue terkoyak dengan tahunya nama si do’i dari sang ibu-ibu. Dengan hati berbunga, gue selah vespa gue dan bergegas untuk pulang–menyiapkan rencana selanjutnya agar gue bisa mengenal lebih dekat cewek itu.
Tapi ada hal yang baru gue sadar. Dan rasanya gue pengen lompat dari lantai tujuh saat gue mengetahui kalau resleting celana gue terbuka selebar-lebarnya.
Gue berpikir keras dan akhirnya gue menyimpulkan kalau ternyata cewek itu lari bukan karena ilfeel melihat ketampanan gue! Tetapi karena takut melihat gue yang mengenakan kaos yang agak urakan ditambah dengan aksen resleting terbuka dari celana gue! Pasti cewek itu ngira gue bakal memperkosa dirinya. Ya Tuhan.
Hari selanjutnya, gue berencana mengenakan pakaian lebih rapi. Tak lupa gue membawa seikat bunga indah untuk cewek itu–pasti dia melting liat gue. ganteng, rapi, wangi, bawa bunga lagi!
Gue pun mendatangi tempat yang ditunjukan oleh penduduk setempat agar bisa bertemu dan berkenalan dengan si doi. Sengaja gue pergi pagi-pagi. Tujuannya biar si doi masih di rumahnya dan belum beredar kemana-mana.Di sini hal yang sebenernya gue tidak suka terjadi! Yaitu menunggu. Akhirnya gue jalankan ritual sialan tersebut karena semuanya demi cinta. Kalau menurut pepatah, sih, kalau lagi jatuh cinta…tai ayam pun seperti coklat rasanya.
Gue menunggu pas didepan rumah si do’i, dan gue menebak “mungkin kali yah do’i kamarnya ada diatas jendela sana.” Kembali seperti hari sebelum menunggu, satu jam menunggui sampai lima jam menuggu akhirnya keluar juga, tapi malah satpam yang keluar dan menanya-nanyai.
“Hey, kamu! Mau maling ya!” teriaknya sambil ngasongin pentungan kearah gue . seperti seorang kapiten yang mempunyai pedang panjang dan memasang muka sangar yang lebih terlihat seperti dakochan.
“GAK SALAH TUH PAK?! Udah ganteng gini–¬bawa seikat bunga, malah disangka maling!”, jawab gue sewot .
“Mendengar keributan, orang rumah pun keluar karena mendengar kericuhan gue yang mungkin bisa menimbulkan pertumpahan darah-lebih dari perang dunia kedua, Melawan tentara KW-99. Dan yang gue dambakan muncul didepan gue bersama calon mertua yang serta menemaninya.”
“Elo…, ngapain ribut-ribut disini!”
“Engga, gue cuman mau jelasin masalah kemaren, yang waktu loe lari ngeliat gue kaya hantu si siang bolong.”
“Jelasin apaan?!” sewot Vero.
Akhirnya nyokapnya Vero menyuruh masuk untuk membicarakan semuanya berdua didalam rumah. Gue terseyum bahagia bisa masuk kerumahnya dan bicara dengan seorang bidadari yang jelas-jelas sekarang benar nampak dihadapan gue. “Benarkan!!!, dia itu nyata dan dia bukan hantu siang bolong yang menghilang di gang kenangan.” Ucap gue dalam hati . Vero pun pergi kedapur untuk mengambilkan segelas air yang sangat penting bagi orang kehausan cinta kaya gue.
Sambil menunggu minuman yang Vero buatkan, gue menyempatkan waktu untuk merapikan pakaian, rambut dan tampang excited agar terlihat mempesona dimatanya. “walaupun jelek akan terlihat bagus apabila sampulnya bersih.”
Vero pun datang membawakan segelas air putih yang mungkin bakalan gue minum. “jangankan air putih, air got jakarta aja gue mau minum asal bisa pacaran sama do’i!” lalu gue menyodorkan tangan gue kepada vero.
“Hei, nama gue Septian Maulana panggil aja Nyenye.” do’i pun tertawa.
“Nama aku Vero, Lucu ya nama kamu!” sambil cengegesan kaya kuda.
“Emang ada yang aneh ya?”
“Engga hehehe,” sambil cengegesan melulu sampe bodo.
Singkat cerita gue berikan seikat bunga, do’i pun menghirup bunga yang gue berikan, kemudian tersenyum lebar seperti badut pasar malam. Melihat do’i tersenyum rasanya seperti teriak-teriak bebas kaya orang utan yang hampir punah di Sumatra dan tidak lupa gue update di twitter. Dan lo mau tau? ternyata secara tidak langsung do’i telah menjadi followers gue, dan membaca mention gue di hapenya.
“@nyenyepiaggio gila gue seneng banget do’i tersenyum sama bunga yang gue kasih .
“@veronica: RT @nyenyepiaggio gila gue seneng banget do’i tersenyum sama bunga yang gue kasih .
“Disini gue gondok setengah mati!!!” menahan rasa malu gue yang rasanya pengen terjun dari ketinggian 1000 meter dengan kepala jatuh terlebih dahulu tanpa parasut.
Bermodalkan tampang dingin seolah masalah itu tak pernah tersentuh dan terbaca, Kita pun bicara sambil tertawa lepas hari itu. Sebelum pulang gue tidak lupa pada rencana awal, yaitu meminta nomer pribadinya–do’i pun memberikan dengan ikhlas ridho lilahitaalla. “camkan !!!” tanpa paksaan sama sekali dan cara semua itu boleh ditiru dirumah “can try this at home.”
Singkat cerita gue dan Vero bersatu, bagaikan bhineka tunggal ika–walaupun kita selalu berbeda tapi tetap satu.
Matahari tenggelam, berganti bulan dan bintang. Gue dan do’i pergi naik Vespa keliling kota. Do’i menelfon gue di saat gue beres mandi buat bersiap-siap pergi satnite.
Kring…kring… kring HP gue berbunyi.
Veronica calling . . .
“Ya, Darling.”
“Honey, kamu masih di mana?” suara mesra Veronica yang memikat sukma.
“Ini mau pergi ko sayang!”
“Kita nonton aja yuk…, kamu hati-hati ya di jalan, MUACHHH !!!” sambil menutup telfon.
“WHATTT ?” dia cium gue di telfon, bergegas pergi dan selah motor Vespa gue. “Trenggg… Tenggg… Tenggg…” begitulah bunyinya. Dengan mengendarai motor seperti terbang melayang melawati atmosphere mengelilingi alam semesta, Dan sampailah pada saat yang berbagia dengan tempo yang sesingkat-singkatnya. Gue pun sampe tepat di depan rumahnya.
“Tengnong… tengnong… assallamualaikum.” Bel berbunyi Vero pun membuka pintu.
“Hey Nye, mau pergi sekarang?” dengan gaya british woman yang membuat gue hampir mati kepalang.
“………………….,” gue cuman bisa bengong sambil ngiler netes kemana-mana.
“ Heh bengong lagi ?, Ayo kita pergi.” Sambil menarik tangan gue.
“Lebih cepat lebih baik.” Jawab gue dengan cinta.
Seperti biasa, “Trenggg… Teng… Teng…, ngekkk… ngek… ngek…” suara vespa cinta gue ditambah dengan suara klakson dan “seperti swike kelindes stum.” Berbeda jauh di banding dengan motor baru sekarang. Tapi itu keunikan dari motor gue tersayang.
Gue pun berjalan menelusuri lampu penerangan kota, dan berhenti di lampu lalu lintas. Gue lihat lampu merah, kuning, hijau dilangit yang biru secerah hatiku. Apapun kalau lagi jatuh cinta semua terasa indah dan ini nyata!. Akhirnya gue sampai di Mall, ternyata gue ngantri sepanjang jalan kenangan untuk sebuah film cengeng yang katanya lagi heboh banget. Sampai setengah jam, tibalah saatnya giliran gue dan do’i, “Jreng jeng jeng…!!!” dengan muka dingin tanpa dosa, mbak-mbak tukang karcis mengeluarkan kertas putih bertuliskan ”SOLD OUT !!!”, udah ngantri kaya mau bagiin raskin pula dan taunya nggak bisa nonton. Yang akhirya do’i ngajak pulang sampe manyun sepanjang jalan kaya Donald Duck!. Gue udah tau kalo modus cewek kaya gini janganlah di ajak bicara, karena apa? pasti galaknya mengalahkan raja-raja singa di Afrika sana.
Beberapa hari kemudian do’i ulang tahun dan meminta Rainbow cake segede ban container pada gue sebagai hadiah ulang tahunnya.
“Honey, aku mau di ulang tahunku kamu ngasih Rainbow cake ya buat aku.”
“I… yah.” Sambil mikir keras berapa tuh harga rainbow cake.
Gue berusaha apapun untuk bisa dapat uang dari mulai menabung sampai mencari banyak untung, untuk membeli sebuah rainbow cake. Siang berganti malam gue kuliah sambil bekerja, berharap bisa membuat do’i bahagia–dan duit pun terkumpul untuk membeli rainbow cake. gue pergi ke suatu toko cake, tiba-tiba diperjalanan gue nggak sengaja liat obral gila-gilaan aksesoris vespa disebuah toko, seperti tertarik magnet yang kuat, sambil berlari-lari kecil gue menembus kerumunan orang-orang. Ternyata setelah gue telusuri diujung belakang toko, gue lihat.“DISKON 75% AKSESORIS VESPA !!!.” gak banyak mikir gue merogoh kocek dalam-dalam dan menyisakannya satu lembar .
Tanpa banyak mikir, gue lari keluar, masangin itu Backrack dan bergegas menyusuri jalan sambil pamer kemolekan vespa kece gue si manohara .
Pikiran gue tersentak kaget hingga jantung gue cenat cenut engga karuan, “ampun deh mamih, itu kue gimana ceritanya ?” gue kaget, mencoba berfikir keras, Gue berpikir harus cari duit dimana lagi??? coba saja ada Doraemon, semua masalah pasti kan teratasi !, sambil terus mikir “otak… mana otak…”
Terpikirlah sebuah pemikiran yang jenius saat itu, terpikir sebuah getuk yang berwarna-warni ibaratkan sebuah rainbow cake tradisional yang terbuat dari singkong. Singkat cerita gue persiapkan surprise demi do’i. Ditaman dengan dekorasi yang romantis sedikit anarkis, Gue dan do’i bertemu.
“Sayang, makasi ya atas semuanya, mana kadonya” sambil meluk gue dan tertawa cengengesa kaya kuntilanak heboh menang arisan.
“Iya ada kok, tapi kamu merem ya, satu… dua… ti… ga…” sambil nyodorin tuh Getuk rainbow kemuka.
“WHAT IT IS ?!” sambil monyongin bibir kaya swike yang lagi bersendawa.“Ini getuk rainbow, gue gabisa beliin rainbow cake, rainbow cake-nya gue ganti sama getuk, sama kan ini cake traisional. Liat tuh si manohara, semakin kece gue pasangin “backrack“ dengan bangganya gue sambil nunjuk nunjuk kearah vespa yang terparkir rapih didepan teras .
“Jadi kamu lebih mentingin motor dari pada aku?” sambil marah-marah kaya monyet kampung yang belum di kasih makan.
“Ya bukannya gitu sayang,”
“Vespa butut kamu aja yang selalu dimanjain sedangkan aku, udah kamu maunya pilih aku atau vespa butut itu.”
“Apa?!, jaga omongan loe tuh ya, gue lebih milih vespa gue karena dia lebih tulus di bandingkan hati kamu yang baik diluar taunya busuk di dalam”
“Oke kita PUTUSHHH,” sambil ngomong muncrat kemuka gue.
“Hey tunggu!” teriak gue sambil memegangi pergelangan tangannya yang lembut .
“apa lagi?” jawabnya halus, matanya yang lugu terlihat sayu menatap ke arah gue
“ngomongnya ga usah pake mucrat kali, geli gue” jawab gue sambil bergidikDia pun lari kiranya berharap gue kejar seperti di film-film, taunya bodo amat deh, lebih baik gue putus dan samperin vespa gue yang selalu menemani gue dimanapun kapanpun yang gue butuhkan. Liat tangki, isi bensin, ‘Selah’ lagi tanpa risau gaspoll tanpa pamrih, pergi berdua berkeliling penuh cerita–melihat matahari terbenam di jalan layang kota kembang .
-
Anda tidak merincikan alamat blog atau alasan untuk menulis ketika Anda membuat topik ini.
This support forum is for blogs hosted at WordPress.com. If your question is about a self-hosted WordPress blog then you’ll find help at the WordPress.org forums.
If you don’t understand the difference between WordPress.com and WordPress.org, you may find this information helpful.
If you forgot to include a link to your blog, you can reply and include it below. It’ll help people to answer your question.
This is an automated message.
-
-
- Topik ‘Antara Aku, Kamu dan Getuk Lindri.’ tidak lagi menerima balasan baru.