cerpen
-
Cinta Tanpa Koma
oleh: admin
[ Selasa,16 Februari 2010 – 06:42 AM]Bicara tentang cinta pasti nggak pernah ada habisnya. Akan selalu ada cerita. Beragam cerita tentang berbagai versi cinta di dalamnya. Cerita bahagia. Cerita sedih. Cerita tentang kemarahan. Cerita tentang kerinduan. Cinta kepada orang tua. Cinta kepada sahabat. Cinta kepada saudara. Cinta kepada kekasih. Cinta kepada kekuasaan. Cinta kepada kekayaan.
Tapi, adakah cinta sejati di antara semua itu? Cinta yang dapat membuat pengorbanan dilakukan tanpa penyesalan. Cinta yang mampu melahirkan sejatinya kebahagiaan.
Ramai orang berlomba mencari cinta yang sesungguhnya. Mereka mencari, kita mencari, menapaki jalannya masing-masing dengan caranya sendiri. Ada yang dengan memperturutkan hawa nafsu, menjadikan diri sendiri sebagai satu-satunya penentu. Sehingga tidak heran bertebaranlah cinta rela mati ala Romeo dan Juliet atau ala Jack ‘n Rose. Sehingga lahirlah perayaan berhala cinta ala Juno Februata atau ala Dewa Zeus dan Hera. Cinta liar. Cinta tanpa akal. Cinta tanpa perenungan.
Lalu bagi kita, cinta sejati seperti apakah yang akan kita perjuangkan? Cinta sejati seperti apakah yang layak kita miliki dan bagi?
Cinta sejati yang terabai
Manusia ada karena diciptakan oleh Sang Penguasa Alam Semesta, Allah Swt. Allah telah ciptakan manusia dengan rasa butuh. Manusia membutuhkan makanan-minuman, pakaian dan tempat tinggal untuk bisa tetap menjalani kehidupan. Manusia membutuhkan perlindungan untuk bisa hidup dengan aman. Manusia membutuhkan pendidikan agar mampu berkembang.
Allah ciptakan manusia dengan kemampuan merasa: haru, marah, suka, takut, sedih, takjub, kecewa, cinta. Sehingga hidupnya bisa dijalani dengan lebih berwarna.
Allah ciptakan manusia dengan menyediakan segala isi bumi dan langit diperuntukkan bagi manusia. Allah curahkan air dari langit sebagai penyubur tanaman. Allah ciptakan laut dan sungai beserta makhluk di dalamnya. Allah telah ciptakan padang rumput untuk manusia bisa gembalakan hewan ternak bagi kepentingannya. Allah telah ciptakan pepohonan sehingga manusia bisa berteduh dan membuat tempat tinggal.
Allah telah ciptakan padi, gandum, jagung, ketela untuk mengenyangkan perut manusia. Allah telah ciptakan api dan barang tambang sehingga manusia bisa hidup lebih nyaman. Air, api, udara, tanah, Allah sudah serahkan semuanya bagi manusia. Allah telah hadirkan akal pada manusia sehingga mampu selalu memajukan hidupnya. Dan itu yang teristimewa. Namun, apa yang telah manusia perbuat untuk membalas cintaNya?
Cinta Allah dibalas dengan pendustaan terhadap perintah dan laranganNya. Cinta Allah dibalas dengan penolakan untuk berhukum berdasarkan aturanNya. Yang halal tidak dipedulikan! Yang haram dilanggar! Cinta Allah dibalas dengan pelalaian, pembohongan, dan keengganan untuk taat sepenuhnya, untuk mengabdi sepenuh jiwa. Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. hanya dipakai sesekali, tidak untuk dikaji lagi dan ditaati. Ironis. Miris.
Cinta sejati tak akan pernah menyakiti
Cinta Allah kepada makhlukNya adalah ampunan dan nikmatNya atas mereka, dengan rahmat dan ampunanNya, serta pujian yang baik kepada mereka. Cinta Allah kepada kaum mukmin adalah pujian, pahala, dan ampunan bagi mereka (Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah, hlm.: 42)
Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari hadist Anas bin Malik r.a. Dia berkata: “Rasulullah saw bersabda tentang apa yang beliau riwayatkan dari Rabnya. Dia berfirman : ‘….Jika Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar. Aku menjadi matanya yang ia gunakan untuk memandang. Aku menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memegang. Aku menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. DenganKu ia mendengar, denganKu dia memandang, denganKu dia memegang, denganKu dia berjalan. Seandainya ia meminta kepadaKu, niscaya Aku benar-benar memberikan kepadanya permintaanya, dan seandainya dia berlindung kepadaKu, niscaya Aku benar-benar melindunginya….”
Dari Anas r.a., sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:”Ada tiga perkara, siapa saja yang memilikinya ia telah menemukan manisnya iman. Yaitu orang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih dari yang lainnya, orang yang mencintai seseorang hanya karena Allah, dan orang yang tidak suka kembali kepada kukufuran sebagaimana dia tidak suka dilemparkan ke Neraka.” (Mutafaq ‘alaih)
Indah. Teramat indah cinta yang Allah Swt. anugerahkan kepada manusia. Cinta yang melebihi cinta semua makhluk di seluruh jagad raya. Kalau kita membalas cinta itu dengan tulus dijamin tidak akan pernah bertepuk sebelah tangan, bahkan balasannya melebihi apa yang kita mampu perkirakan.
Itulah cinta Allah, cinta sejati. Cinta yang nggak akan pernah menyakiti.
Cinta tanpa koma
Cinta Allah bagi para hambaNya sudah sangat jelas tidak akan pernah lekang oleh jaman. Nggak pernah habis digerus kondisi, situasi, dan waktu. Lalu bagaimana sebaliknya? Balasan seperti apa yang sepatutnya kita persembahkan bagi Allah? Pastinya cinta haruslah dibalas dengan cinta. Cinta yang seperti apa? Al Zujaj berkata, “Cintanya manusia kepada Allah dan RasulNya adalah menaati keduanya dan ridlo terhadap segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah saw.”
Di sebuah kisah, Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar, dan Utsman datang bertamu ke rumah Ali. Di sana mereka dijamu oleh Fathimah, putri Rasulullah sekaligus istri Ali bin Abi Thalib. Fathimah menghidangkan untuk mereka semangkuk madu. Ketika mangkuk itu diletakkan, sehelai rambut jatuh melayang dekat mereka. Rasulullah segera meminta para sahabatnya untuk membuat perbandingan terhadap ketiga benda tersebut, yaitu mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut. Malaikat Jibril yang hadir bersama mereka, turut membuat perumpamaan, “Menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik. Menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” Allah Ta’ala, pun membuat perumpamaan dengan firmanNya dalam hadits Qudsi, “SurgaKu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu. Nikmat surgaKu itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju surgaKu lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” (Sabili No.09 Th.X)
Cinta kita kepada Allah akan mampu membuat kita rela berkorban apa saja demi Dia, membuat kita akan terus mengingatNya, tunduk terhadap segala tuntunanNya, dan bersabar atas segala ujian dariNya. Tanpa kita was-was kalau cinta kita tidak berbalas. Allah sendiri yang menjanjikan seperti yang termaktub dalam hadist Qudsi di atas. Surga. Memang akan selalu muncul rintangan di tengah perjalanan. Akan ada jalan terjal menuju ke sana. Namun Allah sudah pastikan surga itu nyata ada buat kita.
Cinta kepada Allah memang harus diletakkan di atas segalanya. Namun, bukan berarti cinta kita kepada manusia yang lain tersingkirkan. Cinta seperti itu seharusnya tetap ada dan memang akan terus ada karena secara alami Allah telah ciptakan bagi kita. Namun, harus dipastikan bahwa iman yang menjadi satu-satunya sandaran. Sandaran bagi cinta. Sandaran bagi benci kita.
Allah berfirman dalam hadist Qudsi:”KecintaanKu pasti akan diberikan kepada orang-orang yang saling mencintai karenaKu. KecintaanKu berhak diperoleh oleh orang-orang yang saling mengunjungi karenaKu. Kecintaanku berhak diperoleh olah orang yang saling memberi karenaKu. KecintaanKu berhak diperoleh oleh orang yang saling menjalin persaudaraan karenaKu.”
Keindahan cinta seperti itu pernah ditunjukkan oleh Suhail bin Amr, Ikrimah bin Jahal, dan Al Harist bin Hisyam. Ketiganya adalah syuhada di Perang Yarmuk tahun 15 H. Saat itu mereka bertiga mengalami dahaga yang luar biasa. Para sahabat yang mengetahui itu segera membawakan air kepada Ikrimah. Namun Ikrimah menolak karena dia melihat Suhail merasakan yang sama. Ikrimah meminta para sahabat memberikan air itu kepada Suhail. Rasa haus sudah mencengkeram kerongkongan, namun di titik nafas penghabisan itu Suhail melihat Al-Harits bin Hisyam juga sedang kehausan. Dia meminta air itu diberikan kepada Al Harits. Ketika air itu tiba, ternyata Al Harits sudah tiada. Air itu segera dibawa ke Ikrimah kembali, ternyata dia pun sudah tidak bernafas lagi. Sahabat langsung membawakan air kepada Suhail, ternyata kondisi Suhail pun sama, sudah gugur menjadi syuhada. Akhirnya mereka bertiga syahid dalam pengorbanan dan kesetiaan kepada saudara seiman, seakidah, dan tentunya wafat dalam berjuang di jalan Allah, jihad fisabilillah.
Jangan sampai iman pudar lalu hawa nafsu yang menang. Ketika itu yang terjadi maka cinta Allah yang agung tidak akan pernah bisa diindera, dirasa. Cinta antar manusia pun hanya akan berbuah malapetaka. Keinginan kita menuju surgaNya akan sirna.
“Betapa buruk pemuda yang memiliki budi pekertidipaksa mengorbankan adab karena nafsu diri
kehinaan didatangi padahal ia mengetahuinya
kehormatannya terkoyak dan kehinaan dijaga
kesadarannya bangkit tatkala dia jatuh terjerembab
dia menangis tatkala tak mampu lagi bangkit” (Syair Abu Bulaf al-Ajly)
Bro en Sis, Allah Swt. masih memberikan kesempatan bagi kita untuk mencintaiNya dan kita masih memiliki peluang untuk menerima curahan kasih sayangNya. Lalu mengapa kita tidak berusaha mewujudkan itu pada diri kita? Jangan sampai ada rasa sesal di kemudian hari karena kesempatan yang berharga telah hilang dari diri.
Cinta Allah akan senantiasa mengalir bagi para hambaNya. Siang. Malam. Saat manusia terjaga. Saat manusia terlelap. Ketika manusia ingat. Ketika manusia khilaf. Tiap detik helaan nafas. Tiap hentakan langkah yang kita buat. Tiap waktu cinta Allah hadir selalu. Cinta tanpa titik akhir. Tanpa jeda. Cinta tanpa koma. Kita pun wajib membalasnya dengan upaya sekuat tenaga untuk memgkokohkan iman, memelihara perjuangan, tentunya diiringi doa dan ketulusan. [nafiisah: http://nafiisahfb.co.cc%5D
Kado Cinta dari Islam
oleh: admin
[ Rabu,03 Maret 2010 – 07:56 AM]Harta terbesar pada diri manusia adalah adanya iman Islam dalam diri. Betapa banyak manusia lainnya yang tersesat tak menemukan jalan kebenaran meskipun sepanjang hidupnya ia telah mencari. Dalam pencariannya itu, tak jarang di antara mereka kemudian menjadi atheis alias tak percaya adanya Tuhan.
Ludwig Feurbach bilang: “Tuhan itu hanya proyeksi manusia yang kosong hatinya”. Karl Marx bilang: “Kalau manusia secara sosial ekonomi bisa hidup dengan baik, Tuhan just die out”. Fredrich Nietchze bilang: “Tuhan telah mati”. Sigmund Freud: “bertuhan itu seperti mendambakan seorang ayah saja, maka kalau kita langsung dewasa, kita tidak lagi butuh Tuhan”. Richard Dawkins bilang: “kebutuhan akan Tuhan itu hanya meme (semacam gene) yang menular dari brain-to-brain dalam proses evolusi”. Daniel Dennett bilang: “Pikiran akan Tuhan itu hanyalah gen mistik yang tertinggal dalam proses evolusi manusia”.
Pengikut mereka banyak, tersebar di seluruh penjuru dunia. Bahkan anehnya, banyak juga perguruan tinggi Islam yang menjadikan mereka, para atheis itu sebagai idola. Pemikirannya yang tulalit itu dikaji dan diikuti. Padahal sepanjang kisah hidup mereka hingga akhir hidupnya, berisi kisah tragis sepanjang masa. Contohnya Karl Marx. Ia hidup dalam kemelaratan dan keterasingan. Bahkan sedikit sekali orang yang mau menjadi temannya karena sikapnya yang buruk dalam berinteraksi dengan orang. Sebuah sikap seseorang ketika ia tidak menemukan apa yang dicari dalam hidup yaitu keimanan. Hidupnya penuh kegelisahan dan penuh ketidakteraturan.
Bersyukurlah kita yang sudah dikaruniai iman dan Islam sejak lahir. Meskipun begitu, iman ini haruslah ditingkatkan terus dan terus. Apalagi Allah Swt. sudah memberi bekal akal untuk semakin meyakini iman Islam ini. Bila potensi akal ini maksimal kamu gunakan, tak akan pernah goyah meskipun banyak orang dan peristiwa datang berusaha untuk meruntuhkannya. Bahkan dalam kondisi sepahit apa pun menurut kebanyakan orang, seorang mukmin itu bisa merasakan manisnya iman. Hebat!
Kado indah bernama iman ini pantas dan harus diperjuangkan hingga titik darah penghabisan. Kamu masih ingat kan seorang budak bernama Bilal bin Rabbah yang bertahan pada iman Islamnya meskipun dadanya ditindih batu besar di tengah padang pasir yang panas? Yang dilafalkan Bilal cuma ‘Ahad! Ahad!’ secara berulang-ulang. Keimanan inilah yang mampu membuat seseorang bertahan dan berjuang seberapa berat kehidupan menghampiri.
Beda banget dengan kondisi jiwa orang-orang atheis itu. Akhir hidupnya selalu dipenuhi kisah memprihatinkan. Rumah tangga para tokoh calon penghuni neraka ini juga berantakan, bahkan tak jarang matinya pun bunuh diri. Jadi, sungguh nikmat iman dan Islam ini benar-benar begitu indah hadir sebagai kado kita sepanjang zaman.
Kado bernama Freedom
Freedom atau kebebasan adalah kado terindah bagi setiap makhluk hidup. Jangankan manusia, lalat aja bila ditangkap dan dimasukkan toples pastilah berjuang keras untuk menemukan jalan keluar agar bisa bebas lagi. Apalagi manusia yang mempunyai akal untuk berpikir, sudah pasti ia tak akan mau dipenjara atau diperbudak. Jadilah kebebasan menjadi daya tarik tersendiri untuk diperjuangkan.
Islam datang sejak awal memberi kebebasan pada manusia. Kebebasan dari segala macam pemberhalaan terhadap sesama makhluk. Berhala yang mengurung kebebasan ini bisa berupa harta, tahta dan wanita. Coba lihat, berapa banyak yang lemah tak berdaya di bawah kerling wanita. Kebebasannya jadi hilang karena yang ada hanya terpenjara pada nafsu syahwat saja. Begitu juga dengan harta dan tahta. Terjadinya saling bunuh dan pertikaian biasanya bermula dari rebutan harta dan tahta.
Manusia tak pernah bisa menjadi bebas hingga Islam datang dengan memberikan jalan keluar berupa penghambaan pada yang sepantasnya. Sifat lemah manusia membutuhkan sesuatu di luar dirinya yang bersifat Maha. Ketika manusia berhasil ‘menemukan’ Sang Maha ini, maka pada saat itulah ia merasa bebas karena keresahan hati telah terobati.
Penghambaan pada Allah Yang Esa telah menjadikan manusia menggapai kebebasan sejatinya. Gimana nggak kalo semua aturan Allah Swt. yang harus ditaati sebagai bukti taat sebagai hamba, pas bener dengan fitrah dan akal manusia. Coba deh kamu cari orang mukmin yang merasa gelisah dan terkekang karena kebebasannya terbatas. Nggak bakal nemu deh!
Misalnya saja seorang muslimah berjilbab karena taat pada Allah Ta’ala. Ketika orang-orang kafir itu menyebutnya sebagai pengekangan kebebasan perempuan untuk memilih mode, para muslim berpikir sebaliknya. Mereka merasa bebas dengan aturan dari Allah ini karena tak ada lagi laki-laki yang menilai mereka sebatas kulit dan daging saja. Mereka merasa menjadi perempuan berharga diri karena keimanan, ketakwaan, kecerdasan dan kebaikan hati-lah yang menjadi ukuran, bukan panjang pendeknya rambut sebagai mahkota yang harus ditutupi. Mereka jadi pengendali mata lelaki dalam memandang bagian tubuh mana yang boleh dilihat dan yang tidak. Tuh kan, keren banget!
Kado bernama syariah
Syariah adalah aturan. Yang dimaksud di sini so pasti syariat Islam bukan syariat lain-lain yang nggak jelas asal-usulnya. Syariah adalah kado cinta Islam bagi umat manusia dan lingkungan, bukan hanya muslim semata. Bagaimana bisa? Syariah menjamin kesejahteraan umat manusia dan lingkungan yang berada dalam lingkup penerapannya.
Misalnya saja perbuatan merusak alam dan lingkungan dengan menebang pohon sembarangan dilarang keras. Perilaku ini memberikan efek berantai bagi rusaknya keseimbangan alam berupa tanah longsor dan banjir. Bencana alam ini efeknya menelan korban jiwa manusia dan binatang di sekitarnya. Syariah Islam memberikan tuntunan agar tidak merusak pohon-pohon.
Itu dari segi perlindungan alam. Dari segi perlindungan manusia, Islam mempersembahkan kado indah untuk melindungi akal, jiwa dan harta. Gentel, seimbang dan impas.
Haramnya khamr atau minuman keras beralkohol adalah dalam rangka melindungi akal ini. Haramnya membunuh jiwa manusia tanpa alasan jelas bertujuan melindungi jiwa sehingga ada hukum qishash atau balik membunuh si pembunuh. Bahkan qishash ini bisa tak dilaksanakan apabila keluarga yang dibunuh memaafkan dan sebagai kompensasi ‘hanya’ dengan membayar sejumlah ganti rugi. Bukan kejam tapi ini manusiawi agar manusia tak sembarangan membunuh orang lain seperti misalnya Babeh yang membunuh banyak anak jalanan tapi proses hukumnya belibet.
Pencuri yang sudah mencapai jumlah tertentu dan bukan karena kelaparan akibat paceklik, dihukum potong tangan. Sanksi ini memberi efek jera kepada pelaku. Bandingkan dengan hukum sekuler yang memberi sanksi penjara 3 bulan bagi maling ayam dan cuma 2 tahun bagi koruptor milyaran rupiah. Keluar dari penjara bukannya insaf tapi malah lebih lihai karena para pencuri ini berguru kepada teman sesama napi trik-trik mencuri dan korupsi yang lebih canggih.
Masih banyak aturan Islam lainnya yang indah semisal di bidang pendidikan, sosial kemasyarakatan, ekonomi, bertetangga dan lain sebagainya. Islam itu bukan hanya hukum potong tangan, tapi Islam itu meliputi seluruh aspek kehidupan. Dan seluruh aspek kehidupan yang diatur oleh Islam ini tak bakal dapat terwujud nyata tanpa adanya sebuah sistem yang menerapkannya. Ibaratnya sebuah air yang jernih, kejernihan itu tak akan tampak ketika tak ada wadah yang menampungnya. Dan wadah bagi aturan Islam yang indah ini hanya ada pada sebuah sistem bernama Daulah Khilafah Islamiyah.
Meraih kado cinta Islam
Sejak diruntuhkan oleh seorang keturunan Yahudi bernama Mustafa Kemal Attaturk pada 3 Maret 1924, daulah Khilafah ini tak lagi ada di tengah-tengah kita. Maka pantas saja umat Islam jadi merana dan terlunta-lunta serta teraniaya karena tak punya pemimpin dan rumah yang bisa melindungi. Tapi jangan berkecil hati! Selalu saja ada cara untuk meraih kemuliaan itu dengan memperjuangkan kembalinya kehidupan Islam sebagaimana telah terbukti selama lebih dari 14 abad.
Cara meraih kemuliaan itu adalah dengan dakwah dan jihad. Dakwah di sini adalah dakwah tanpa kekerasan. Ya, dakwah dengan membangkitkan pemikiran umat agar sadar dan bergerak. Jihad di sini pun bukan jihad ngawur mengebom sana-sini tanpa ilmu. Adanya sebagian orang yang suka bom inilah yang seringkali dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk menyudutkan aktivis dakwah. Oleh karena itu dakwah dan jihad pun ada ilmunya, nggak bisa sembarangan aja main pukul rata.
Nah, untuk mencari ilmunya, kamu kudu bergerak dong! Nggak bisa ilmu datang tiba-tiba tanpa diupayakan. Yuk, hadir di majelis ilmu yang membahas tentang Islam sebagai the way of life, aturan hidup yang menyeluruh. Bukan hanya sekadar bisa sholat dan puasa tapi tak mau berdakwah. See, asik kan ternyata jadi orang muslim itu. Selalu ada kado cinta berebut pahala kebaikan di setiap kesempatan. Tidak tegaknya syariat Islam dalam bingkai Khilafah Islamiyah ini jangan sampai membikin kamu pasif. Sebaliknya, ketiadaan ini malah bikin kamu makin semangat bergerak dan berjuang untuk mewujudkannya lagi dalam kehidupan sehari-hari.
Tanamkan dalam diri kamu bahwa seorang muslim itu hidupnya mulia. Jadi jangan pernah deh mau diremehkan dan diinjak-injak oleh kaum kafir. Apabila ini yang terjadi maka mati syahid jauh lebih baik daripada hidup terhina di bawah kaki penjajah. Penjajah bukan hanya ada dalam sejarah kumpeni yang melakukan kerja rodi pada kakek nenek moyang kita. Tetapi penjajah masih ada saat ini dalam bentuk penjajahan ekonomi, politik, sosial, budaya dsb. Wah… makin gemas dan menambah semangat berjuang nih. Yuk, cintai Islam, pelajari dan pahami ajarannya, praktikkan dalam kehidupan nyata. Dukung dengan aktivitas dakwah Islam yang tanpa kekerasan. Kita bisa terlibat bersama dalam dakwah. Tentu sepakat dong ya. Harus itu! [ria: (email hanya ditampilkan ke moderator dan staf)]
Blog yang perlu diperbaiki adalah: (hanya ditampilkan ke pengguna yang sudah login)
- Topik ‘cerpen’ tidak lagi menerima balasan baru.