imbalo
| Peran forum | Anggota sejak | Aktivitas terakhir | Topik yang dibuat | Balasan yang Diberikan |
|---|---|---|---|---|
| Anggota | November 16, 2007 (18 tahun) |
- | 1 | 1 |
- Peran forum
- Anggota
- Anggota sejak
November 16, 2007 (18 tahun)
- Aktivitas terakhir
- -
- Topik yang dibuat
- 1
- Balasan yang Diberikan
- 1
Bio
Nama ku Imbalo, tak ada artinya di dalam kamus besar bahasa Indonesia, kalau dihilangkan hurup a nya menjadi imbal artinya menjadi miring ke satu pihak, bisa juga berarti upah pembalas jasa. Kalau dalam bahasa perdagangan, sistem imbal balik adalah perdagangan timbal balik antara dua negara, negara A menjual sesuatu produk ke negara B negara B wajib membeli produk dari negara A. Lain dengan sistem Imbal beli. (lihat kamus besar bahasa Indonesia).
Aku juga terkadang disapa oleh teman2 di Batam dengan Baloi, i nya agak panjang , dan kebetulan ada satu daerah di Batam namanya Baloi tapi tidak ada hubungannya dengan namaku. Sebenarnya Dalam bahasa melayu sehari-hari baloi ada artinya, kata ini sering digunakan oleh seniman di Batam maupun di negara jiran (Singapura maupun Malaysia).
Aku dilahirkan di Tapanuli Selatan 54 tahun yang lalu, aku senang membaca apalagi buku2 sejarah, ibuku bilang Imbalo adalah sejenis getah dari pohon kayu (seperti damar) digunakan oleh penduduk waktu dulu untuk menguatkan suhul (gagang) parang, di Tapsel disebut Gupak, imbalo, digunakan agar gagang dan parangnya tidak cepat lepas (copot), sekarang orang-orang sudah jarang menggunakannya , dan ada masih sebagaian orang untuk melekatkan parang ke gagangnya menggunakan plastik yang dibakar atau dilelehkan.
Aku baru selesai membaca buku Pongkinangolngolan TUANKU RAO, kata sebagian orang buku itu kontoversi. Tapi aku menikmati isinya, dulu sewaktu SR aku pernah melihat buku itu sepintas dan membaca judulnya tapi tidak sempat membaca isinya karena tak kulihat lagi kemana buku itu disimpan oleh kakakku.
Jadi aku dilahirkan tidak berapa jauh dari Benteng yang dibuat oleh Tuanku LELO di kota Padang Sidempuan, kecil ku di Medan, tidak ada hal istimewa yang akan kutuliskan , umur lima tahun ayahku meninggal dunia, dikebumikan di Besilam (Babusalam) sekarang kecamatan Padang Tualang Kabupaten Langkat 4 kilo meter dari Kota Tanjung Pura, Tanjung Pura sendiri sekitar 60 KM dari Medan. Kami dulu tinggal di rumah Atok (Kakek) dari pihak Ibu di Langkat.
Ternyata Besilam adalah desa yang cukup terkenal di Nusantara, sejak zaman Belanda konon untuk Haul memperingati wafatnya Tuan Guru Besilam, pemerintah Belanda saat itu membangun Stasiun Kereta Api di Besilam. Murid2 tuan Guru berdatangan dari manca negara ke Besilam hingga lah saaat ini.
Saat aku masih SR dulu di Besilam, Kereta api dari Kota Raja ke Medan lancar belaka. Pagi siang dan Petang, katanya sekarang akan di buka kembali route itu, setelah priode Orde Baru ditutup.
Waktu itu di Besilam SR hanya sampai kelas 4 saja, kelas 5 dan 6 dilanjutkan di Langkat, untuk menamatkan SR saja aku harus berpindah-pindah sekolah, kelas satu kulalui di Besilam kelas dua dan kelas di Medan di sekolah Swasta Pahalawan, kelas 4 aku kembali ke Besilam, kelas 5 dan kelas 6 aku kembali ke Medan di SD negeri 47 jalan Sutrisno Medan Area Selatan, aku masih ingat sekali demgan Bapak Kepala Sekolah nya yaitu Pak Thamrin Siregar beliau sangat baik tehadap ku, apakah karena aku anak yatim aku tak tak tau.
SMP, aku di Langkat Tanjung Pura, di SMP I, saat itu di Langkat apalagi di Besilam sering Banjir, sekolah sering libur kalau lagi banjir, SMP di Langkat kulalui hanya kelas satu saja, di saat itu Kapal Permina 11 tenggelam aku masih ingat , lagu Titiek Puspa Minah Gadis Dusun diubah suai kata-katanya dengan “Kapal Permina 11 jatuh tenggelam”
Kelas 2 di SMP Muhammadiyah Medan timur, dan kelas 3 nya di SMP Muhammadiyah jalan Demak, ujian akhir nasional aku tak lulus, tapi aku tak sedih waktu itu karena memang aku tak dapat menjawab soal-soal nya. Namun aku terus melanjutkan ke SMA swasta Dwi Warna di jalan HM Joni Medan, tahun berikutnya aku mengikuti ujian extranei di SMP X jalan Thamrin Medan.
Sewaktu SMA aku aktif di Pramuka di Gugus Depan Medan 3/6 di KOMDAK II SUMUT, jalan Zainul Arifin kampung keling dan menjadi pembantu pembina di situ, aku mendapat honor , senang sekali rasanya. Karena tahu kalau aku pramuka pak Kades tempat ku tinggal di Medan meminta ku mengajar pramuka juga dan aku pun mendapat kan honor dari dia, bertambahlah senang hati ku. Namun di samping itu aku bekerja sebagai loper koran SUARA KARYA jam tiga pagi sudah ke percetakan, untuk melipat-lipat koran, karena pada saat itu belum ada percetakan offset seperti sekarang yang koran nya bisa dilipat langsung, jadi masih manual. Pagi koran di antar ke langganan dan ada juga yang ditipkan, selepas sekolah mana yang tidak sempat diambil pagi, kuambil sore harinya. Aku lupa berapa honornya tapi aku senang, sampa tamat SMA pun aku masih menjadi loper di situ.
Sejak tahun 1991 aku mendirikan sekolah Taman Kanak-Kanak di Batam, tiga tahun kemudian Sekolah Dasar, enam tahun kemudian SMP dan setahun kemudian tingkat SMA , namanya SEKOLAH ISLAM TERPADU HANG TUAH, beralamat di jalan Ranai no 11 Batam.
Sekolah ini menampung anak2 yang putus sekolah, kurang mampu , yang nilai nya rendah, dan anak-anak yang tidak diterima di sekolah manapun. Anak jalanan banyak di sekolah Hang Tuah, hingga kini jumlah murid nya mencapai seribu siswa, aku pun mengelola panti asuhan, pengalaman semasa kecil ku menjadi Yatim, akupun tak mau anak2 yatim hanya diusap-usap kepala nya oleh tangan-tangan orang kaya yang bersedeka, menurutku kepala anak yatim bukan hanya di usap-usap tapi diberi ilmu otaknya yang ada di kepala.
Setamat SMA aku ingin sekali kulia di PIFIA , sekolah yang baru buka saat tahun 1972 terletak di jalan Sampali bekas sekolah cina yang di Nasionalisasikan, waktu itu banyak sekali sekolah - sekolah cina yang di nasionalisasikan di Medan, salah satunya itu tadi katanya bekas sekolah Hwa Hwe (sejenis judi).
Tak bisa melanjutkan kulia aku pergi ke Tanjung Pinang , dan ke Batam. Saat pak Harto tahun 1975 mau berkunjung ke Batam, diperlukan penyambutan, oleh anak-anak sekolah dan pramuka di Tanjung Pinang aku berkenalan dengan Kak Hadi Supangat pembina Pramuka rumahnya di Kampung Baru , dan di Batam aku berkenalan dengan Kak Harun Mustaram (kedua mereka telah almarhun) .